Lebih Baik Sedikit Daripada Tidak Ada

Assalamu’alaikum.

Sudah 12 tahun… Sudah 12 tahun sejak saya naik dari kelas 2 SD menuju kelas 3 SD. Itu berarti sudah 12 tahun Ibu berjuang seorang diri membesarkan saya dan 4 saudara saya. Sudah 12 tahun sejak Ayah saya dipanggil Allah SWT.

Kalau dihitung, mungkin ketika itu saya masih kecil. Baru 7 tahun. Kebanyakan segala sesuatu yang bersangkutan dengan Ayah hanya bisa saya tahu dari Ibu, saudara, om, tante, bulik. Seperti, “dulu tuh Ayah kalo pagi ….” atau “Dulu ayah kamu itu waktu kecil ….” .

Kenangan pribadi saya bersama Ayah pun tidak banyak bisa saya ingat. Hanya sedikit, mungkin karena saya juga masih kecil belum bisa mengingat banyak hal saat itu.

Sewaktu TK, saya masih tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Setiap pulang sekolah pasti saya ke kantor Ayah dan Ibu, menunggu mereka selesai bekerja untuk kemudian pulang ke rumah sore harinya.

Aku memiliki celengan, bentuknya ikan. “Ayah, ikannya belum dikasih makan” kataku dulu. Ayahpun memasukkan beberapa uang koin ke dalamnya.

Ayah menyuruhku tidur, aku memejamkan mata tapi aku belum tidur.
Kok nggak tidur?” Ayah bertanya.
Kok Ayah tau?”
“Itu (bola) matanya gerak-gerak”

Kelas 1 SD, kami semua pindah ke Jawa. Belum menemukan rumah saat itu, kami menginap di salah satu rumah penduduk di dekat kantor Ibu dan SD baruku.

Aku ingat sekali, suatu hari aku di jahilin temen-temen baruku di kelas. Mungkin gara-gara aku adalah murid pindahan, aku tidak tau. Aku kabur dari sekolah, dan tidak berani pulang karena memang belum waktunya pulang. Aku hanya duduk disamping kali kecil sambil menyesali kenapa harus kabur dari sekolah. Lalu Ayah datang, melihatku duduk sendirian di sana dan menjemputku pulang. Beliau tidak marah.

Setelah dapat rumah sendiri, saat itu belum ada air di rumah. Untuk sekedar mencuci, Ayah dan aku pergi ke kali terdekat untuk mendapatkan air bersih.

Setiap hari Jum’at, Ayah selalu membawaku ke Masjid untuk sholat Jum’at. Waktu itu belum ada Masjid di dekat rumah, jadi kami harus berjalan (atau naik motor saya lupa) untuk ke Masjid. Aku pasti dipangku beliau ketika mendengarkan khutbah Jum’at. Suatu ketika, Ayah bertugas menjadi Khotib untuk Masjid tersebut, dan beliaupun berpesan “Nanti kamu duduk yang tenang di sini, Ayah di depan” dan saat itu aku hanya bisa melihatnya berbicara dari jauh.

Aku pernah berebut acara TV dengan Ayah, malam itu aku ingin menonton Pokemon tapi Ayah ingin menonton Angling Dharma.

Aku pun ingat beberapa kali Ayah sering menyuruhku untuk membelikan rokok Gudang Garam. Walaupun inilah yang menyebabkan beliau meninggal. Tapi aku bersyukur aku memiliki ingatan ini.

Salah satu ingatan yang tidak mungkin aku lupakan adalah ketika aku mencuri uang logam dari kantung baju Ayah. Ayah marah sekali saat itu.

27 Juni, 2001.

Tidak banyak yang aku ingat ketika Ayah jatuh sakit. Suatu malam, aku tidur di kamar Ibu dan Ayah. Tengah malam ku terbangun, aku sudah tidak di kamar yang sama ketika aku tidur, melainkan di kamar sebelah. Terlihat banyak orang datang ke rumah. Terdengar suara tangisan diiringi do’a dari dalam kamar sebelah. Aku bertanya pada orang yang ada didepanku, “Ada apa?”. Mereka enggan menjawab dan menyuruhku masuk ke kamar. Aku buka kamar, kulihat banyak orang di sana, kulihat Ibu menangis, kulihat Ibunya Mas Adam menemani disamping Ibu membacakan do’a. Kulihat Ayah masih tertidur.

“Ayah tidur panjang” Ibu bilang padaku.

Ya, hanya itulah ingatan-ingatan yang masih jelas di otakku hingga saat ini.

Selain itu, aku hanya bisa tau dari saudara.
Dulu Ayah itu ketat banget, jam 9 harus udah tidur”
“Dulu, kalau mau minta apa-apa sama Ayah, pas ada tamu aja pasti dikasih”
“Dulu… ”
“Dulu… ”
“Dulu… “

Aku iri, terhadap mereka yang masih bersama Ayahnya sampai sekarang. Aku iri, terhadap saudara-saudaraku yang memiliki waktu lebih lama bersama Ayah. Aku iri.

Namun begitu aku beranjak dewasa, aku sadar, bahwa Allah SWT baik masih memberikanku kemampuan untuk mengingat ingatan-ingatanku bersama Ayah. Ada yang lebih kurang beruntung daripada aku, tidak usah jauh-jauh. Adikku pasti memiliki ingatan yang lebih sedikit dari aku, bahkan ada juga orang yang tidak dapat melihat Ayahnya dari lahir.

Begitu aku beranjak dewasa, aku sangat takjub pada Ibu. Aku takjub bagaimana Ibu dapat bertahan selama ini, membesarkan kami semua. Pasti Ibu adalah orang yang paling sedih diantara kami bersaudara. Ibu yang merangkap sebagai Ayah. Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku pahlawanku.

Sering Ibu bilang kalau ada sesuatu barangku rusak, “Sudah nggakusah susah, Ayahmu aja diambil Tuhan.” 

Sering Ibuku bilang “Jangan rindu sama Ayah, nggak boleh rindu sama Ayah” Tapi terkadang aku rindu, bu.

Ya Allah, sehatkanlah Ibuku. Jauhkanlah Ibuku dari segala penyakit. Panjangkanlah umur Ibuku.

Ingatanku bersama Ayah memang sedikit, tetapi aku bersyukur masih dapat mengingatnya, daripada tidak ada.

Aku mungkin belum terlalu mengenal Ayah lebih dalam secara langsung seperti saudara-saudaraku yang lain, tapi aku menyayangi beliau, aku mencintai beliau.

رب اغفر لي  و لوالدي  رب ارحمهما  كما ربياني  صغيرا

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran
Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil

Wassalamu’alaikum

Ilmu jangan disimpan sendiri, bagikan ke teman-teman anda:

Comments

comments

Ahmad Fadli Basyari

Mahasiswa IT di President University. Memiliki hobi membuat aplikasi mobile, blogging dan menonton film.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA *

[+] kaskus emoticons nartzco